17 Okt 2012

Day By Day Part 2

“Kyaaaaaaa!!!” teriakku dalam hati. Hari ini benar-benar menyanangkan, kalian tahu kenapa? Oke aku tahu kalian tidak akan tahu ini, tapi aku jamin ini adalah berita yang akan membuat kalian SWEAT DROP!! 
Ehm, bukan! Maksudnya ini berita yang membahagiakan. Kalian masih ingat ceritaku yang kemarin kan? Kalo belum, silahkan click disini~ , oke… aku akan menciritakannya dr awal!

 “krriiiiiiiiiiiiing”
‘akhirnya bel juga..’ desahku dalam hati. Setelah belajar selama 4 jam akhirnya bel berbunyi juga, dan ini adalah saatnya makan siang. Sayangnya bekal makan siangku sudah habis duluan sebelum waktu makan siang. Akhirnya aku mengajak Azura –temanku- untuk membeli makanan ringan di kantin, tapi dengan 1 perjanjian. Aku harus menunggunya menghabiskan bekalnya baru dia bersedia mengantarku. Oke, itu bukan perjanjian yang berat, lalu aku terima dengan sukarela. Sambil menunggu azura makan, aku berkeliling di sekitar kelas untuk ‘mencicipi’ bekal teman-temanku, yah… ini kadang menjadi kebiasaanku saat aku kehabisan bekal. Seiring berjalannya waktu, akhirnya Azura selesai juga. Kami berduapun keluar, mencari makanan ringan di kantin. Ada beberapa teman kami yang menitip tolong untuk dibelikan makan, tapi aku dan Azura tidak begitu saja menerima titipan mereka dengan sukarela. Semua hal itu mempunyai syarat. Mengerti dengan maksud kami, teman-temanku yang cepat tanggap itu –eaaa- lansung memberikan bonus, yaitu upah, walaupun Cuma sedikit, tapi lumayan, masih cukup untuk membeli permen.
*** 
“ih sepatunya sama! Nurutin!” kata seseorang.
Huh? Seperti ada yang sedang mengajakku berbicara. Dengan tampang cuek aku melirik 90˚ ke kiri. Ternyata benar, ada seorang anak laki-laki yang gemuk dan lucu yang sedang mengejek sepatuku. Memang benar sepatuku sama dengannya, hanya saja warnanya saja yang berbeda Esa -anakitu- hitam, dan aku abu-abu.
“jadi Jokowi harus berubah jadi JokoWAW?” kataku dengan gaya anak-anak alay zaman sekarang.
“problem for you?” kata anak kelas 6 SD itu, dengan tak kalah alay
“ya!”
“aku harus cepet, Pak dwi mau cerita.” Kata Esa yang sedang terburu-buru membuka freezer di kantin.
Dalam hati aku bergumam “lha? Terus urusan gue?” kemudian dengan terburu-buru anak ‘lucu’ itu pergi.
Dengan kesabaran mengantri tingkat tinggi /lebay/ . akhirnya kami selesai membeli pesanan makanan teman-teman. Kemuadian aku bersama Azura kembali ke kelas, saat sedang diperjalanan entah kenapa Azura tiba” tertawa ter bahak-bahak, aku yang heran kemudian menanyakan keadaannya yang sebentar lagi mencapai level ‘miring’ . kemudian Azura menyerahkan uang kembalian dari kantin tadi.
‘hah? Ini kan hanya selembarang uang seribu biasa, apa lucunya?’ kataku dalam hati. Kemudian aku membalikan selembaran seribu itu, dan terlihatlah sesosok wajah nista pangeran Antarasari yang sedang memakai kacamata.
HMPFH!!! Aku tak tahan lagi, akhirnya aku ikut tertawa terbahak-bahak bersama Azura hingga tiba di kelas.
***
“Ra, jajan lagi yuk..” aku merajuk pada Azura, karena aku benar-benar belum membeli makanan apapun! Saat ke kantin tadi aku hanya membeli makanan titipan teman-teman saja, karena di kantin tadi tidak ada makanan yang aku suka. Jadi aku tidak membeli apa-apa. Setelah merajuk beberapakali pada Azura, akhirnya dia mau mengantarku ke warung dekat kantin.
Di tengah perjalanan aku dan Azura bertemu Lucy dan Susan yang sedang duduk-duduk di kursi bambu dekat kantor guru. Kemudian aku dan Azura manghampiri mereka.
Aku meminta permen pada mereka, tapi semua permen mereka sudah habih. Ah, sebalnya. Tapi Lucy tiba-tiba meminta bantuanku, kemudian dia membawaku ke toilet SD. Dantampaklah pemandangan yang sangat mengenaskan. Air yang terus-menerus memancar dari tembok, dan keran air yang tergeletak di tanah; patah.
Aku memandangi semua pemandangan dimataku dengan wajah facepalm-ku yang tersohor.
“aku gak tahu, saat aku masuk, kerannya udah coplok, Li” kata Lucy dengan wajah innocent.
Aku mencoba menyubat saluran airnya dengan jariku, dan kemudian meminta Lucy untuk menyubatnya dengan kain, tapi disini tak ada yang secuil kainpun, dan mirisnya lagi bajuku basah akibat pencaran air yg sedang aku sumbat. Lalu susan dan Azura pun masuk ke toilet. Dengan inisiatif kami yang biasanya tidak berjalan, kami berinisiatif untuk memanggil pak Asri; dia adalah spesialis masalah-masalah sepeti ini. Tapi pak Asri kebetulan sedang tidak ada di daerah sekolah. Oh mai gat, sampai kapan aku harus mengorbankan tanganku untuk menyumbat pancuran air ini…

Satu persatu temanku masuk ke toilet, mengerumuni aku. Untung saja diantara mereka ada Rosalie, dia anak perkasa diantara anak-anak lain di kelas. Kemudian aku meminta bantuannya, dan Rosalie meminta kami untuk mencari plastic dan karet. Lucy dan Susan pun pergi mencarinya. Aku yang sekarang tak punya kerjaan, mundar-mandir keluar masuk kamar mandi.
Saat aku keluar, tak sengaja aku bertemu dengan Nazuaf, yang wajahnya mirip dengan Ikuto; orang yang aku sukai. Aku memerhatikannya. Dia benar-benar mirip dengan Ikuto-ku, hanya saja hidung mereka sedikit berbeda.
Tak lama, Lucy dan susan pun datang membawa plastic pesanan Rosalie, tapi mereka tidak menemukan karet. Aku masuk lagi kedalam toilet, dengan terpaksa aku memberikan karet rambut yang aku pakai pada Rosalie. Kemudian aku keluar lagi, melihat Nazwaf yang sedang duduk. Kemudian Nazwaf beranjak dan berjalan pergi dari tempat duduknya. Saat dia melewatiku, aku menepuk pundaknya. Tersenyum padanya. Lalu aku mencubit kedua pipinya.
Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!! Rasanya seperti mencubit IKUTOOOOOOO!!! Aku benar-benar senang hari iniiiii!!! Kemudian Lucy,Susan dan Azura serentak mengatakan “CIE” padaku. Dan anak kelas 4pa itu pergi meninggalkan aku dengan dinginnya.
Tapi walaupun begitu, aku senang sekali bisa mencubit pipinya! Aaaa~ Mood blaster KW II ku~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar